Jokowi Under Attack : Keniscayaan seorang Presiden

Share it:
Pada tahun 2010 tidak ada orang yang mengenal sosok jokowi kecuali kota solo dan sekitaran jateng. 2 tahun berselang, jokowi yang memilki background sebagai pengusaha mebel langsung melejit dan over ekspose dari media saat ketertarikannya untuk ikut pilkada gubernur DKI.

ilustrasi presiden


Seakan menjadi oase bagi rakyat kecil, jokowi berhasil mengambil hati masyarakat dengan ikut turun ke gorong - gorong dan  blusukan ke pasar rakyat. Tindakan jokowi ini sukses pula dengan mensponsori munculnya mobil esemka yang digadang - gadang menjadi mobil nasional walaupun 80 % komponen adalah impor dari china. Citra jokowi yang santun dan berhasil merelokasi para pedagang solo dengan cara damai membuat jokowi meraih jabatan gubernur DKI.

Era politik saat itu memang nampak seperti era semi monarki, Presiden susilo bambang yudhoyono (SBY) yang merupakan mantan prajurit TNI memperlihatkan gaya kepimpinan raja yang kalem dan  telah menjalani 2 periode kekuasaan. Kader partai yang ia pegang tak ada yang mampu untuk menjadi suksessor namun justru menjadi bulan bulanan KPK karena korupsi sejumlah proyek.

2 tahun memimpin DKI , jokowi telah berkomitmen untuk terus bekerja menyelesaikan permasalahan DKI selama masa jabatan seperti yang dikutip oleh media. Namun di tahun 2014 jokowi ingkar janji dan memutuskan untuk ikut Pilpres atas perintah ketua umum PDIP. Pertarungan sengit antar media dan bumbu rasis tidak bisa dilepas dari pilpres 2014 menjadi ajang menjual bagi kedua kubu sehingga nampak benih perpecahan ditengah - tengah masyarakat.

Lagi -lagi Jokowi berhasil menjadi presiden dengan keunggulan tipis dari rivalnya prabowo.  Rakyat indonesia sudah tampak saling berkubu dari hasil pesta demokrasi kemarin, media sosial menjadi contoh riil dari perpecahan politik tersebut. Janji - janji jokowi yang belum tuntas di DKI pun harus ditambah lagi dengan Janji - janji beliau untuk pilpres 2014. Salah satu janji populis jokowi adalah tidak akan ada impor bahan pangan dan lebih memperdayakan para petani dan nelayan.

Hutang, terpuruknya rupiah dan jokowinomics

Hutang Indonesia yang membengkak hingga 5000 Trilliun bukan menjadi halangan untuk program jokowi dalam membangun infrastruktur di daerah - daerah terisolasi di indonesia. Mempercantik gerbang perbatasan, kemudahan transportasi  dan akses tol darat di berbagai daerah menjadi sarana wajib pada 3 tahun kepimpinan jokowi. Investor asing berduyun - duyun mensponsori program - program pemerintah tersebut.

Pada tahun 2017 , rupiah melorot ke nilai paling rendah atas dolar amerika sejak krisis moneter 1998 .Pemerintah  berdalih diakibatkan adanya efek eksternal global yang terjadi saat itu, berbagai kebijakan telah diambil sebagai langkah untuk melindungi rupiah dengan salah satu caranya menggunakan rupiah sebagai transaksi utama dalam negeri. Kebijakan ini cukup berhasil namun kenaikannya tidak sebesar saat nilai turunnya, pada akhirnya rupiah selalu stagnan pada kisaran level 13.000 per dolar amerika.  

Klaim jokowi atas meroketnya ekonomi indonesia sempat menjadi perbincangan di media - media, sampai - sampai media pro pemerintah seperti metro tv mengambil headline jokowinomics. Saat ini ekonomi indonesia cenderung stagnan dan mengalami kenaikan makro yang tak lebih dari 5 persen pertahunnya membuat pemerintah begitu bangga, walaupun di saat kampanye dahulu jokowi menjanjikan mampu untuk mencapai 7 persen. Bukan hal yang mudah ternyata.

Pemerintah melihat sejauh ini secara kalkulasi, perekonomian indonesia terus mengalami kenaikan dan perbaikan, namun hal tersebut tampaknya tak terlihat pada sektor riil terutama di kalangan masyarakat bawah indonesia yang tercekik karena inflasi dan kesenjangan yang semakin melebar. 

Kalangan Islam yang bangkit

Semenjak pilpres 2014, isu dan fitnah bukan lagi hal tabu dimasyarakat. debat kosong dan argumen panas antar golongan masyarakat nampak di publik sehingga muncul polarisasi baru. Hal ini bisa menjadi keuntungan dan kelemahan tergantung dari siapa yang memegang peran atau bermain.

Kondisi diperparah dengan peninggalan jokowi terhadap DKI Jakarta kepada suksesornya Basuki tjahaja purnama yang memperuncing isu - isu rasis di tengah - tengah masyarakat indonesia, keberpihakan media - media ternama nampak jelas sebagai aksi tak netral jurnalistik membuat masyarakat bawah terutama kalangan islam seolah bangkit dan bersatu.Saat isu ahok mencuat, jokowi seperti dilema juga tidak memberikan ketegasan apapun dan justru menyerahkannya seiring berjalan waktu.

Isu islam seperti permasalahan HTI, bendera tauhid, penghapusan kolom agama dll menjadi polemik dalam negeri seakan -akan  pemerintah ingin menyingkirkan kalangan islamis di area pemerintahan. 

Kekhawatiran akan kelompok islam dalam negeri justru menjadi bumerang bagi jokowi, kebijakan populis luar negeri dengan adanya isu islam seperti palestina ,rohingya dan afghanistan menjadi perhatian utama pemerintah. Diharapkan dengan kebijakan luar negeri tersebut mampu meredam isu islam dalam negeri. 

Beberapa tokoh juga kedapatan mengambil isu - isu islam untuk popularitas diri dan menutupi kejahatan pribadi atau golongan, hal ini justru memperburuk citra mereka sendiri. Gaya jokowi yang memakai sarung dan kopyah di setiap kunjungannya ke daerah simpatik islam atau pesantren nampak seperti suatu strategi branding yang efektif dalam upaya melebur ke masayarakat.

Presiden juga manusia

Siapapun presidennya pasti memiliki janji - janji yang tidak tertepati, dan itu menjadi tanggungan beliau di dunia bahkan sampai di akhirat kelak. Bukan hak sesorang menghakimi orang lain dari tampak luarnya saja, terus memberikan kritikan membangun adalah cara efektif sebagai hasil test water dari sikap pemerintah yang dinilai merugikan lebih baik daripada menggunakan informasi data yang tidak jelas. Adakalanya pihak tertentu menggunakan pribadinya sebagai korban (playing victim) untuk mengangkat simpatik dari orang lain sehingga citra - citra negatif tentang dirinya akan hilang bersamaan dengan tertangkapnya para pelaku yang termakan isu - isu hoax.

END







Share it:

Lounge

Post A Comment:

0 comments: